Archive for the ‘Life’ Category

The end of the Plane

2008 May 25

After almost 3 years of operation, I am very glad to announce that this blog is officially closed! Glad? Yes, because this end is a beginning of many good things to come.

In short, I decided to get serious in blogging. To attain the customizing freedom I will need, there is no choice but to host my own WordPress. I also decided to start making separate blogs for each topic I’m interested in blogging. So, here are my new blogs (en means in English, id means in Indonesian):

  • Agronesia (en): The closest in spirit to be regarded as a continuation of this blog. Any random stuffs not fit for my more well-defined blogs will be posted there.
  • Agronesia:id (id): A subset of the English Agronesia in Bahasa Indonesia. It will contain only writings which I think will benefit my fellow Indonesians. And that doesn’t include my life.
  • Aguro (en): The blog for my Japanese language study progress, which will include articles and tutorials on learning Japanese language and its culture. Yes, the infamous word and kanji dumps will be here!
  • Yumeko (id): A subset of Aguro translated into Bahasa Indonesia. It will not be jumbled with stuffs about my personal study, so no posts like word dumps here. Just to rephrase: Daily articles of Japanese language and culture written in Bahasa Indonesia.
  • Midoria (en): A blog about my casual delving into plant taxonomy. Yeah, you heard it right.

Yea, it DOES hurt being split into many…

Any new blog announcement will still be posted here. I have also archived Singularity on the Plane outside of Lastly, thank you for the support all these years! Comments is disabled so in the rare chance of anyone wanting to comment, please visit the first ever post at Agronesia.

Bzzzt… Bang.. Wooosh….

2008 May 22

I sense a disturbance in the plane. After all these years, will the plane eventually meet its fate and collapse?

Destruction? Nothingness?

A unique Japanese captcha

2008 May 9

Everybody knows captcha, the verification image we meet everytime we register something to help keep spammers off the board. It usually involves retyping a badly distorted or other visually-abnormal text. Boring, because What You See Is What You Type (WYSIWYT).

Every once in a while someone came up with a clever CAPTCHA, like those simple arithmetic CAPTCHAs where you are asked to do an addition.

Recently, I registered on a Japanese site FC2. It has this never-before-seen (by me) CAPTCHA:

Japanese kana captcha

You, got it right! They spell a series of numbers in kana and we need to retype it using the all-too-familiar 1 2 3. Of course, the image is still littered with those bacteria we’ve been accustomed to.

If you’re studying Japanese, please try to answer in the comments. I’ll give you… a nice reply comment :).

PS: CAPTCHA is actually an acronym so it is written in capitals. However I very much prefer it to write it like: “captcha”.

Damn, now I can’t invite just about anyone to Mixi!

2008 April 17

Probably because of my previous post advertising free Mixi invites, the staff decided to take a measure!

Now to register as a new Mixi user, you need to enter that thing called “handphone mail address”. Simple, except that I don’t even know what it is. I have a handphone, and all I get with it is the “phone number”. You can’t let the field empty. You can’t fill it with a gmail or yahoo address either.

With some chittery-chat on 2ch irc (#japanese), I got someone to tell me that one valid such address is I put a random “something”, and it did succeed.

Until I realized that other than confirming from your normal email, you need to confirm from that dreaded “handphone mail address”.

In the end, I only managed to invite 1 person to Mixi… He was lucky to sign up fast.

I’m on Mixi! こんにちはミクシィの利用者の皆さん。。。

2008 March 29


Friendster. Everyone talks about it, everyone’s in it. However, I thought it was rather useless so I never bothered to make an account. Well, until one day my friend (Firdaus IIRC) pestered me or lets say, forced me to death. ‘It won’t do no harm’, or something like that. Obviously not with a grammatically-unsound (or so they say) construct such as the double negative.

So, to spice things up a bit, I decided to make it a pet social experiment. ‘Let’s see how many friends I can get if I just accept friend invitations…’, I thought. That means all my friends on my friendster list asked me to be friends first. Well, except for one, the almighty guitar kamisama, my high school mate, Andre (who can resist not adding him as a friend?). Right now I have 62 friends. Quite popular, I reckon.

But I jumped from my chair, unliterally, hearing a japanesepod101 podcast talking about Mixi, a friendster-like site but in Japanese. Naturally I was interested to join, as I’m currently a Nihongo student.

Mixi’s registration system is invitation-based, much like the beta gmail (right now gmail should be around version 3). They say that it would allow them ‘to create a comfortable place’, or to paraphrase it, ‘to make you suffer finding someone who owns a Mixi account’.

Getting someone to invite wasn’t that hard for me. Well, if you count several days as ‘not that hard’, that is. On the podcast, Peter and the gang told that one only need to ask them. So I visited the forum and appropriately posted on an already-existing ‘I want a Mixi account’ thread. But it’s a sticky thread so it’s always on the top which unfortunately made it less glaring if a new person posted there. n days passed without a reply.

I was sure I would get a reply by just directly mailing the staff or PMing people that gave mixi invites on that thread, but at that point I couldn’t wait longer and wanted a more real-time response. So I visited the place where one can easily encounter a random Nihonjin and chat with them, (and they actually speak English there if you’re still on your kanas)! a_a was kind enough to invite me, and long story short I’m now a Mixi citizen!

For me, the registration process was relatively easy to follow. The menus are also fully readable. However, the personal content, now that’s where the fun begins! I already found someone using a never-before-encountered non-ministry-approved kanji for eel 鰻 (unagi) on his ‘favorite food’ list.

If you need a Mixi invite, and can assure me that you’re not using it solely for the purpose of finding random Japanese girl pics, I’ll gladly confer it.


2008 March 21




Wish me luck…

A plane of dust

2008 March 19

Membuka pintu. Suara derikan terdengar.

This deserted place smells musty.

A cleaning up should be in order…


Plastik sebagai alat makan

2007 December 15

Di halaman Wikipedia tentang daftar peralatan makan, kita bisa menemukan sendok sampai sumpit. Walaupun begitu, ada satu alat makan yang biasa kugunakan namun tidak terdaftar di situ: plastik!

Plastik untuk makan

Plastik menggabungkan kenyamanan makan menggunakan tangan dengan kepraktisan tidak perlu mencuci tangan maupun alat makan. Cara mendapatkannya juga sangat mudah, tinggal meminta “plastik minum” ke penjual makanan setelah kita membayar.

Inilah tata cara makan menggunakan plastik:

Mengeluarkan isi plastik

Pertama, turn the plastic inside out. Bahasa Indonesianya, buatlah agar permukaan dalam plastik menjadi permukaan luar. Alasannya, ada kemungkinan permukaan luar aslinya telah terkontaminasi berbagai debu dan kuman. Permukaan dalam aslinya mestinya tidak pernah terekspos lingkungan luar sehingga lebih higienis.

Langkah ini belum tentu selalu berhasil dengan mudah. Kadangkala, kita mendapatkan plastik gagal alias permukaan dalamnya saling merekat. Terus saja menggesek-gesek sampai berhasil melepas rekatannya atau sampai bosan.

Memasukkan tangan ke plastik

Setelah itu, masukkan tangan kamu ke dalam plastiknya. Langkah ini juga belum tentu langsung berhasil, sebab kadang-kadang penjual makanan tidak punya stok plastik yang cukup besar. Kalau plastiknya terlalu kecil, coba saja regangkan sambil berharap plastiknya tidak robek.

Makan dengan plastik. Itadakimasu!

Setelah semua persiapan tadi, tinggal acara utamanya yaitu makan! Jangan lupa membuang sampahnya pada tempatnya.

Sebagai alat makan yang sekali pakai buang, sepertinya kelemahan satu-satunya alat makan ini adalah sampah yang dihasilkan. Ya, alat makan ini tidak ramah lingkungan! Di saat ada orang-orang tertentu yang membawa kantong sendiri untuk berbelanja di swalayan (untuk mengurangi jumlah penggunan plastik yang ujung-ujungnya menjadi sampah), makan menggunakan teknik ini rasanya sedikit bersalah. Baikkah menyebarkan meme (baca: mim) “plastik makan” ini di Internet?

Seberapa luaskah penggunaan alat ini? Seringkali, waktu aku minta plastik kepada pedagang yang baru kukenal pun, ada yang menjawab “Oh, buat makan ya?” Mungkin penggunaannya tidak sesedikit yang kuduga. Tapi selama ini, pengguna lain yang pernah kulihat hanyalah beberapa temanku, dan pasti saat makan bareng aku. Dengan kata lain, saat aku yang pergi beli makanan, mereka nitip plastik juga karena sebelumnya telah melihat aku menggunakannya. Misalnya saat makan malam YIC di perpus sebelum melanjutkan bertanding lagi, atau bersama teman lain saat sedang Wifi-an di kampus.

Kalau kamu belum pernah mencobanya, ayo coba sekali-kali…

Bunting, HP Frenku itu…

2007 December 4

Tulisan ini telah dipindah ke “Bunting, HP Frenku itu…”. Silahkan kunjungi server barunya.

This post has been moved to “Bunting, HP Frenku itu…”. Please visit the new server.


2007 November 30

Kami, kami, kami
Aku menunggu kertas itu
Menanti penilaian Tuhan
Sampai rambutku memanjang
Kami, kami, kami

– Agro

Ah, capeknya… Berkas terakhir yang aku perlukan untuk yudisium adalah nilai TA asli yang bisa diperoleh di sekretariat program studi S1 matematika. Hanya saja, petugasnya yaitu Mba Mira tidak ada!!!

Aku menunggu di dekat pintu masuk ruangan tersebut. Ada colokan listrik, meja, dan kursi di situ. Dengan laptop, semuanya bisa saja jadi sempurna. Yang kurang hanyalah koneksi Wifi yang fungsional.

Sambil duduk dan menyalakan komputer, aku diganggu oleh suara dak-duk-duk dan srek-esrek-srek beberapa tukang bangungan yang sedang merenovasi toilet di belakangku. Bau khas situs konstruksi pun sesekali tercium tajam. Aku menunggu walaupun kedatangan Mba Mira juga “belum pasti”, kata petugas lainnya. Tertulis di meja Mba Mira bahwa dia sedang mengikuti “PELATIHAN DI SMILE GROUP”. Apa mungkin dia kurang ramah ya sehingga dikirim oleh kantor mengikuti pelatihan tersebut :)?

Niatnya, sambil menunggu aku mau menulis komentar tentang kertas pengumuman yang terlihat dari tempatku duduk, tentunya untuk ngejar setoran blog. Tapi saat mulai mengetik, datang teman satu kelompok dari mata kuliah “Pengantar filsafat ilmu dan sejarah matematika” yang dulu pernah kuambil. Dia sudah lulus dengan topik TA aljabar. Saat kutanya lebih lanjut tentang apa yang ditulis, dia memulainya dengan pertanyaan, “Tau ring?” Pertanyaan bagus, yang sayangnya hanya bisa kujawab dengan “Cuma pernah denger.” “Kalau grup?”, tanyanya lagi. “Cuma pernah denger juga.” Setelah tahu bahwa aku tidak mengerti apa-apa tentang aljabar, dia menjelaskan TA-nya dengan sangat bijak dan mudah dimengerti, “Ya, pokoknya tentang sesuatu yang abstrak di aljabar.” Sial, beginilah nasib anak MIPA yang tidak berpendidikan, yang tahunya malah “grup” idol macam Momusu

Singkatnya, aku akhirnya ngobrol sambil menunggu Mba Mira. Ngomongin pendadaran. Kata anak matematika temanku itu, dia dosen pembimbingnya dua dan dosen pengujinya tiga. Ngomongin wisuda. Katanya dia pernah ngehadirin temen-temennya wisuda, nunggu di luar GSP. Saat momen siiiiing muncul, cuaca pun diobrolin karena kebetulan memang sedang mendung. Dan semua ini berakhir dengan buruk: Mba Mira tidak datang. Karena ini terjadi Jum’at, terpaksa deh menunggu minggu berganti untuk mencari Mba Mira lagi. Tentang pengumuman yang sebetulnya mau kukomentarin, kapan-kapan aja, untuk saat ini kusimpan dulu di “box” bahan blog. Tahu struktur data box kan? First in, random out (karena ngambilnya sambil ngubek-ngubek).

Urusan setelah pendadaran memang repot…