Archive for the ‘Computer Science’ Category

Pe-nanti-an

2007 November 30

Kami, kami, kami
Aku menunggu kertas itu
Menanti penilaian Tuhan
Sampai rambutku memanjang
Kami, kami, kami

– Agro

Ah, capeknya… Berkas terakhir yang aku perlukan untuk yudisium adalah nilai TA asli yang bisa diperoleh di sekretariat program studi S1 matematika. Hanya saja, petugasnya yaitu Mba Mira tidak ada!!!

Aku menunggu di dekat pintu masuk ruangan tersebut. Ada colokan listrik, meja, dan kursi di situ. Dengan laptop, semuanya bisa saja jadi sempurna. Yang kurang hanyalah koneksi Wifi yang fungsional.

Sambil duduk dan menyalakan komputer, aku diganggu oleh suara dak-duk-duk dan srek-esrek-srek beberapa tukang bangungan yang sedang merenovasi toilet di belakangku. Bau khas situs konstruksi pun sesekali tercium tajam. Aku menunggu walaupun kedatangan Mba Mira juga “belum pasti”, kata petugas lainnya. Tertulis di meja Mba Mira bahwa dia sedang mengikuti “PELATIHAN DI SMILE GROUP”. Apa mungkin dia kurang ramah ya sehingga dikirim oleh kantor mengikuti pelatihan tersebut :)?

Niatnya, sambil menunggu aku mau menulis komentar tentang kertas pengumuman yang terlihat dari tempatku duduk, tentunya untuk ngejar setoran blog. Tapi saat mulai mengetik, datang teman satu kelompok dari mata kuliah “Pengantar filsafat ilmu dan sejarah matematika” yang dulu pernah kuambil. Dia sudah lulus dengan topik TA aljabar. Saat kutanya lebih lanjut tentang apa yang ditulis, dia memulainya dengan pertanyaan, “Tau ring?” Pertanyaan bagus, yang sayangnya hanya bisa kujawab dengan “Cuma pernah denger.” “Kalau grup?”, tanyanya lagi. “Cuma pernah denger juga.” Setelah tahu bahwa aku tidak mengerti apa-apa tentang aljabar, dia menjelaskan TA-nya dengan sangat bijak dan mudah dimengerti, “Ya, pokoknya tentang sesuatu yang abstrak di aljabar.” Sial, beginilah nasib anak MIPA yang tidak berpendidikan, yang tahunya malah “grup” idol macam Momusu

Singkatnya, aku akhirnya ngobrol sambil menunggu Mba Mira. Ngomongin pendadaran. Kata anak matematika temanku itu, dia dosen pembimbingnya dua dan dosen pengujinya tiga. Ngomongin wisuda. Katanya dia pernah ngehadirin temen-temennya wisuda, nunggu di luar GSP. Saat momen siiiiing muncul, cuaca pun diobrolin karena kebetulan memang sedang mendung. Dan semua ini berakhir dengan buruk: Mba Mira tidak datang. Karena ini terjadi Jum’at, terpaksa deh menunggu minggu berganti untuk mencari Mba Mira lagi. Tentang pengumuman yang sebetulnya mau kukomentarin, kapan-kapan aja, untuk saat ini kusimpan dulu di “box” bahan blog. Tahu struktur data box kan? First in, random out (karena ngambilnya sambil ngubek-ngubek).

Urusan setelah pendadaran memang repot…

Kenapa aku (dulu) tidak mau jadi dokter

2007 May 5

Tulisan ini telah dipindah ke singularity.agronesia.net: “Kenapa aku (dulu) tidak mau jadi dokter”. Silahkan kunjungi server barunya.

This post has been moved to singularity.agronesia.net: “Kenapa aku (dulu) tidak mau jadi dokter”. Please visit the new server.

Laborous questions in a test

2007 March 13

Why must instructors give a very “long” problem which doesn’t test understanding any better than a “shorter” problem?

Here’s an example problem to test the understanding of shift cipher:

Encrypt the plaintext “example” using the shift cipher with key B.

That problem should suffice. However here’s what some instructors like to give:

Encrypt the plaintext “iliketoseemystudentssufferhahahaiamevil” using the shift cipher with key P.

The second problem isn’t intellectually harder, it’s just more laborous!

I can forsee a similar agony in a microbiology test:

The nucleotide sequence of one DNA strand of a DNA double helix is:
-GGAGATCGCATGCATGCACAGCTGACGATGCA-
(dunno whether it is realistic, I just typed the ATGCs randomly)
What is the sequence of the complementary strand?

Isn’t a strand of -ATGC- enough?

PS: Oh and about that second example, it’s actually quite nice considering that my instructor gave a LONGER ciphertext to encrypt… Unbelievable…

The cashier didn’t use a greedy algorithm!

2007 February 3

I just bought a Rp. 3,000 bread at Mirota Kampus. It’s a twelve slices plain bread that I use for three breakfasts. I gave Rp. 50,000, and the change was perfectly Rp. 47,000.

However, it is interesting that the cashier didn’t use a greedy algorithm. First she picked a Rp. 20,000, then two Rp. 10,000s, then a Rp. 5,000, and lastly two Rp. 1,000s. I swear that there are still piles of Rp 20,000s, so she could’ve gave me 2 x Rp. 20,000 + Rp. 5,000 + 2 x Rp. 1,000 as greedy algorithm would dictate.

I could imagine the cause…

Mirota Kampus Cashier Job Vacancy

We are looking for individuals with the following qualifications:

  • Female
  • Aged 17-25
  • Attractive looking
  • Honest, hard-working, and not greedy