This post has been moved to singularity.agronesia.net: “Writing kanji: doing it the traditional way”. Please visit the new server.
This post has been moved to singularity.agronesia.net: “Writing kanji: doing it the traditional way”. Please visit the new server.
2007 April 21 at 10:34 am
Numpang nimbrung nih Mas…
Hm… Saya walau sudah hapal hiragana, masih juga tertatih-tatih membaca deretannya. Masalahnya, kalau menulis, suka lupa urutan strokenya atau cara penulisan. Sementara ini, “konvensi pribadi” yang saya pake “dari kiri ke kanan” dan “dari atas ke bawah”. Kalau untuk urutan stroke, biasanya saya pake “mode berputar” (maksudnya, semua huruf saya anggap ditulis dengan lingkup lingkaran).
Wah, kalo Kanji baru diajarin di level 4. Kira2 awal yang baik bagaimana ya Bos?
2007 April 23 at 8:53 am
>> Saya walau sudah hapal hiragana, masih juga tertatih-tatih membaca deretannya.
Tinggal masalah jam terbang aja. Kalau sering latihan baca lama-lama lancar. Aku inget, waktu awal-awal belajar hiragana dulu aku nyetel mp3, kuset kecepatannya jadi 50% (pake WMP), dan kucoba ngikutin dengan ngebaca hiragana di liriknya.
>> Masalahnya, kalau menulis, suka lupa urutan strokenya atau cara penulisan.
Aku sesekali ngecek lagi stroke order kana, untuk memastikan aja apakah yang kugunakan masih benar. Soalnya bisa saja, kita sudah menghafal yang benar, lalu di tengah jalan kita (nggak sengaja/lupa) menggambar dengan stroke order semaunya sendiri, dan pada akhirnya stroke order “konvensi pribadi” itu yang kita anggap benar
…
>> Wah, kalo Kanji baru diajarin di level 4. Kira2 awal yang baik bagaimana
Menurutku, cara terbaik memilih kanji yang akan dipelajari adalah mempelajari kanji yang memang muncul di media tertentu, misalnya lirik lagu. Jadi, ada konteks nyata saat mempelajari kanji tersebut. Ya, jadi nggak usah bergantung sama daftar semacam Jouyou Kanji.
(aku pernah nyoba keduanya, mempelajari berdasarkan apa yang muncul di media tertentu vs mempelajari kanji di daftar seperti Jouyou Kanji. Lebih menyenangkan yang pertama)