When lecturers give students writing homework, most students just Google for the topic and then translate some (English) web pages they found. However, ignorance of the topic or underutilization of common sense usually creates a translation that’s silly.
Last semester, I took “Introduction to the history and philosophy of mathematics”. The class is divided into groups and each group must make a paper about the topic they choose. Before the test, I managed to get all the group’s paper. One paper particularly stood out, so let’s try to reverse engineer it!
- “Ini dapat dibuktikan dengan PENGENALAN” -> “This can be proved using INTRODUCTION”. Great, a new proving method has just been invented. It obviously should be “Ini dapat dibuktikan dengan INDUKSI” which in English is “This can be proved using INDUCTION“.
- “Teorema PENGINGAT Cina” -> “Chinese REMINDER theorem”. As in, “the theorem that reminds you to eat and take a bath”. The correct translation should be “Teorema SISA Cina” which in English is “Chinese REMAINDER theorem“. A famous theorem in number theory.
- “Seekor laba-laba memanjat DENGAN beberapa kaki di dinding…” -> “A spider climbs the wall USING some feet…”. Because the problem doesn’t ask for the number of feet the spider has (or uses), the translation that makes sense is “Seekor laba-laba memanjat SEJAUH beberapa kaki di dinding…” (“A spider climbs the wall FOR some feet…”).
It’s as bad as a Biology student translating “order” (in taxonomy) to “pesanan” (as in “pizza order”).
Substandard translation is also found in commercial translated English textbooks. Sometimes, it’s as if the translator didn’t check whether their sentence makes sense.
I’ve also found some funny translations in the Indonesian sub of movies containing techonological (e.g., “open source“), scientific (e.g., “string theory“), and mathematical (e.g., “group“) jargons. It caused some chuckles but sadly I don’t remember them. (IIRC it’s in, among others, “Antitrust”, “October Sky”, “A Beautiful Mind”, “Good Will Hunting”, and that movie about natural disaster where birds suddenly fall from the sky)
2007 February 12 at 10:08 pm |
Numpang nimbrung nih Mas…
Yaah, fenomena transt*ol(tm) memang sudah merajaratulela di kalangan mahasiswa Mas.. Bagaimana lagi, ribet amat dengan laporan yang kertasnya akan disobek-sobek sama dosen, kekekeke….
OOT:
1. Saya sudah mulai belajar di LIJ, lumayan menyenangkan.
2. Saya penggemar anime juga, walau tidak se-geek si raltz, mau tuker pinjem PV, DVD or Buku bagus?
3. Bagaimana cara menginputkan karakter Japanese ke SCIM? Saya ga bisa-bisa nih.. musti donlod apa aja sih? Oia, kalau perlu donlod lib atau apapun, bilang aja, sapa tahu diriku bisa kasih. Seperti kata Pak I G*de M*jiyat*a, “mari kita manfaatkan bandwith lokal”. Kekekeke…
2007 February 13 at 7:53 pm |
Kalau terjemahan yg kusebutin sih nggak mungkin pake Transtool. Soalnya Transtool ga mungkin nerjemahin “induction” jadi “pengenalan” dan “remainder” jadi “pengingat”.
1) tanoshisou…
2) Kalau mau ambil file di komputerku sebenernya sih tinggal main ke kos aja… Aku banyak PV dan acara TV Momusu
. Tapi aku sekarang lagi nggak di Jogja
…
3) Untuk Input Method coba deh https://help.ubuntu.com/community/SCIM/Kubuntu?action=show atau https://help.ubuntu.com/community/SCIM . Ya, nanti kalau aku butuh lib2 Ubuntu aku cek di kamu dulu deh…
2007 February 15 at 1:16 am |
Salaam…
Did they? Translating via Google? Whatever happened to 6-year-or-more English lesson? What a waste so I think, because translation is simply costly if done by machine. And in case of your substandard translation, I totally agree, they’re lowlifes. But for Google, I don’t find the developer responsible.
Sekalian nanya, IME apa aja yang jalan di semua textarea, sih? I tried almost everything than runs on my Mandriva. Occasionally they work but most of the time they pushed me back to ASCII. In browser universe, SCIM works, but only on Mozilla . Isn’t it weird?
Salaam…
2007 February 15 at 11:24 am |
Well, no, they didn’t translate via Google. What is meant by the post is that they search for a finished page (“to google” has become a synonym for “to search”) and then translate it by themselves.
But that’s not writing, just translating. My witty English teacher (a Canadian IIRC) always searches for sentences in the student’s paper (while he was teaching on some school in the West), and often finds that the submitted paper is just something taken unmodified from the web. Translating a web page and submitting it as a writing homework is not much different.
Aku baru pernah nyoba SCIM di Ubuntu 5.10 dan waktu itu hanya jalan di GNOME. Kalau SCIM yang di Ubuntu 6.10 katanya udah jalan secara universal.
2007 April 1 at 8:16 pm |
Dari barat. Dari timur, selatan dan utara. Ramai orang berbondong-bondong ke destinasi yang sama. Dari pagi ke petang hingga ke lepas dinihari. Berasak-asak dalam bahang biar bau peluh basi. Keinginan yang kuat tak sedikit pun menjera.
Tiap sudut tiap gerai ada saja tarikannya.Lirik mata menjeling, mengacu, menembak setepat-tepatnya. Harap-harap ada sesuatu yang mengena perhatian. Andai hati terpaut pasti akan jadi rebutan. Kata seorang pegerai selera pembeli ikut minggu bulan puasa.
Minggu pertama pengunjung suka bersama teman-teman. Dari pangkal hingga hujung mereka cuma jalan-jalan. Kata orang putih mereka mahu ‘window shopping’ saja. Belek itu belek ini tidak henti duga harga. Pembeli masa kini bijak menaksir perbelanjaan. Kata pakar kewangan “Rancang Dulu Beli Kemudian”.
Dari sebuah gerai kelihatan seorang pegerai yang sedang duduk di atas sebuah tangga. Pegerai itu melaung:
” Mari teman mari handai. Tidak kira apa bangsa. Kita naik mrt, bas, motor, lori atau kereta. Jalan kaki pun boleh asal kita berhati-hati. Yok, ke bazaar yang tumbuh bak cendawan selepas hujan.”
Minggu kedua pengunjung akan bertukar selera. Kaki tangan pemerintah tersenyum selebar-lebarnya. 12 hari bulan masuk gaji menerusi GIRO. Penuh sesak ‘Joo Chiat Complex’ bak ada tawaran IPO. Dendangan lagu hari raya mula rancak bergema.
Minggu ketiga Geylang makin dibanjiri manusia. Lepas terawih makin rancak makin hangat suasana. Pegerai tambah mesra melayani semua pelanggan. Maklumlah, persaingan sengit, tinggi pula harga sewaan. Cukup andai balik modal. Jika untung bonus namanya.
Pegerai di atas tangga masih melaungkan:
“Mari teman mari handai. Tidak kira apa bangsa. Kita naik mrt, bas, motor, lori atau kereta. Jalan kaki pun boleh asal kita berhati-hati. Yok, ke bazaar tahun ini kalau tidak bilakah lagi?”
Minggu keempat demam hari raya mula melanda. Lampu ‘lap-lip’ terpancar di kekisi tiap jendela. Rumah pangsa Geylang Serai bak letusan bunga api. Kesesakan jalan raya hingga pukul satu pagi. Manakan tidak, semua barang turun harga!
Hari terakhir Ramadhan pasar Geylang jadi tumpuan. Suri rumah beli bekalan hidangan hari raya. Lembu, kambing, ayam segar tetap menu utama. Janur, tahu dan tempeh tinggi kadar permintaannya. Semalaman bersiap kerana esok HARI RAYA!!!!
Pegerai di atas tangga mengeluarkan alat penguat suara lalu melaung dengan sekuat-kuat hatinya:
“Selamat Hari Raya. Ampun maaf pun dipinta. Miskin kaya bergembira. Sambut dengan sederhana. Jangan lupa berjemaah. Biar sunnah besar berkahnya. Pulang kelak makan semeja. Tambah mesra sekeluarga. Hah mari ya, Selamat.Hah Hari Raya ya, Hari Raya. Sekali lagi, Selamat, Hari Raya okay, Hari Raya.”